Hasyim MAH Blog

Berharap Adanya Diskusi

Mari Menilai Kasus Century Secara Obyektif

Ditulis oleh hasyimmah di/pada Februari 2, 2010

Tulisan ini dibuat 1 hari menjelang dibacakannya hasil Pansus DPR mengenai Kasus Bank Century. Namun, terlepas apa pun hasilnya besok, saya ingin berusaha menilai kasus ini tanpa adanya keberpihakan atau kepentingan politik lainnya.

Kasus ini sebenarnya memperlihatkan dengan jelas kepada kita bahwa kepentingan politik selalu mengalahkan kepentingan bangsa secara umum. Bagi politisi Senayan yang berseberangan dengan pemerintah, ketika ada peluang untuk menjatuhkan kredibilitas pemerintah, apapun akan dia lakukan. Begitu juga sebaliknya bagi politisi yang pro-pemerintah, apapun dia lakukan untuk bisa menyelamatkan pemerintahan. Kedua kubu akhirnya melupakan tugas utama mereka dan hasilnya, program pemerintah pun akhirnya banyak terbengkalai karena kasus ini. Dan rakyat juga yang akhirnya jadi korban.

Apakah Boediono dan Sri Mulyani Bersalah?

Boediono (selaku Gubernur BI) dan Sri Mulyani (selaku Menkeu) bisa kita nggap salah, namun bukan berarti salah seperti yang banyak dituduhkan. Banyak pihak yang secara kasar bilang bahwa mereka pencuri. Saya rasa ini tuduhan yang berlebihan.

Boediono dan Sri Mulyani adalah yang paling bertanggung jawab atas kebijakannya mengeluarkan bailout. Namun hal ini tidak bisa kita salahkan karena ini hanya masalah kebijakan. Mengenai ada pendapat ahli yang menyatakan bahwa kebijakan ini salah, ini hanya masalah madzhab ekonomi.

Menurut Boediono dan Sri Mulyani, Century harus diselamatan karena akan berdampak sistemik. Ekonom lain berpendapat berbeda. Nah, masalah pendapat ini tentu tidak bisa kita jadikan alasan untuk menyalahkan Boediono dan Sri Mulyani, karena kebijakan itu muncul juga didasari pendapat mereka sebagai ahli ekonomi.

Hanya saja Boediono dan Sri Mulyani bisa saja kita salahkan jika bailout yang bernilai Rp 6,7 T itu ternyata salah perhitungan. Dan seandainya angka ini memang salah hitung (salah data dari bawahannya), itu juga bukan berarti kita bisa menuduh Boediono dan Sri Mulyani sebagai orang jahat yang mencuri uang negara. Namun sebagai petinggi negara tentu mereka berdua harus bertanggung jawab atas kelalaian mereka. Bagaimana mungkin pejabat setinggi itu bisa mendapatkan data yang salah mengenai uang negara yang begitu besar. Pertanggungjawaban ini memang bisa berupa pengunduran diri dari jabatan mereka sekarang ini. Langkah ini tentu merupakan langkah yang paling bijak bagi keduanya.

Namun, di sini kembali saya tegaskan, akan sangat tidak adil jika kita menuduh mereka sebagai pencuri atau orang jahat. Mereka berusaha menjalankan tugas mereka dengan baik. Hanya saja mereka mendapatkan data yang keliru. Mereka sama sekali tidak mencari keuntungan pribadi dari kasus ini.

Hal ini juga berlaku terhadap pemerintahan SBY. Tuduhan bahwa dana tersebut mengalir ke tim sukses SBY saya rasa itu mengada-ada. Kita harus akui bahwa popularitas SBY pada pilpres kemarin memang luar biasa. Mereka tidak perlu dana sebesar itu untuk memenangkan pemilu apalagi dari sumber dana yang tidak jelas seperti itu.

Secara Hukum Siapa yang Perlu Dihukum?

Satu-satunya pencuri dalam kasus ini adalah Robert Tantular dan kroninya. Merekalah yang harus dihukum berat atas kerugian negara dan nasabah. Robert jugalah yang membuat skenario bagaimana bisa mengelabui BI dan Depkeu agar memberikan bailout kepada Bank Century.

Maka dari itu, yang paling mendesak kita lakukan sekarang ini adalah menelusuri dana bailout itu dan berusaha menyelamatkan uang negara dengan cara mengusut tuntas aset-aset dari Robert Tantular. Perlu kita ketahui bahwa Robert juga merampok habis harta sesama investor Bank Century.

Jika kita memang benar-benar ingin menyelamatkan kekayaan negara, mari kita fokus ke Robert Tantular, bukan kepada sisi politis seperti yang dilakukan Pansus di DPR sekarang ini. Buang-buang energi, waktu dan hanya menyuguhkan sinetron politik ke masyarakat.

Melihat fakta tersebut, tentu kita sangat sedih bahwa seorang Robert Tantular bisa mengobrak-abrik negara seperti sekarang ini. Dan celakanya, para wakil rakyat lebih suka berheboh-heboh ria tanpa memperhatikan secara jernih inti persoalan ini.

Mojokerto, 2 Februari 2010

Hasyim MAH

Ditulis dalam Politik | Leave a Comment »

Penipuan Itu Masih (dibiarkan) Berlangsung

Ditulis oleh hasyimmah di/pada Januari 14, 2010

Tanggal 12 Januari 2010 yang lalu, saya dan keluarga pergi ke Jogja dan sempat mampir ke Ambarukmo Plaza (Amplaz). Baru naik dari tempat parkir, di depan Carrefour ada booth peralatan rumah tangga merek Aowa. Begitu lewat, istri saya ditawari sebotol sabun cuci piring gratis hanya dengan memberi tanda tangan oleh staf penjual dari Aowa tersebut. Istri saya tertarik dan “terjebak” di mejanya.

Oleh 2 orang staf penjual (1 pria dan 1 wanita), kami lalu dikenalkan dengan kompor listriknya yang menggunakan teknologi tanpa elemen. Meski sudah pernah melihat kompor seperti itu, tetap saja kami dibuat terkesan dengan produk tersebut. Kami juga dibuat terkejut dengan harganya yang katanya Rp 9.999.000!

Ketika kami mulai terkesan, kami lalu ditawari ambil kupon yang nanti bisa dapat diskon 10% atau 20%  atau bonus produk Aowa selain kompor tadi. Perlu diketahui bahwa kompor tadi memang produk termahal di booth Aowa itu. Produk selain kompor adalah juicer, panci dan food processor yang lain. Harga produk-produk selain kompor berkisar antara Rp 4,9 jutaan sampai Rp 7,9jutaan.

Nah, lalu istri saya mengambil 1 dari tumpukan kupon yang disodorkan. Setelah dibuka, ternyata kami bukan sekedar dapat diskon 10-20% atau bonus produk murah, kami ternyata dapat bonus produk termahal yaitu kompor! Kami sedikit terkejut, tapi kedua staf penjual itu lebih terkejut lagi. Mereka sampai tidak percaya bahwa ada kupon dengan bonus semahal kompor! Tapi justru dari terkejutnya mereka, saya jadi merasa ada yang tidak beres.

Lalu, untuk meyakinkan bahwa kami “sangat beruntung”, tumpukan kupon yang sempat dimasukkan saku oleh staf wanita tadi, kini dikeluarkan lagi. Nah, sayangnya saya yakin sekali bahwa dia mengeluarkan tumpukan kupon yang kedua ini dari saku yang berbeda dengan yang pertama tadi. Lalu saya disuruh ambil lagi secara acak. Dan benar, saya cuma dapat kupon diskon 10% dari situ. Dalam hati saya, tentu saja, karena tumpukan kupon yang pertama bisa jadi berisi kompor semua, sedangkan yang kedua ini berisi kupon diskon saja.

Karena (berakting) tidak percaya dengan keberuntungan saya, staf pria meninggalkan meja dan seakan-akan konfirmasi dengan menelepon ke kantor pusat atau sejenisnya (tetap dengan kesan terkejutnya). Saat itu, staf wanita menjelaskan bahwa kami bisa beli apapun dari produk Aowa dan bisa bawa pulang gratis kompor yang sempat membuat kami terkesan tadi. Jadi, misal kami beli Juicer yang cuma Rp 5jutaan, kami bisa bawa pulang produk senilai Rp 15 jutaan!

Staf pria kembali dengan ceria dan meyakinkan bahwa kupon itu benar-benar berlaku. Keduanya langsung mengajak bersalaman dan memberikan ucapan selamat yang mengesankan kami sangat beruntung. Kemudian kami mulai ditanya-tanya tentang kartu kredit yang kami punya. Setelah itu kami dibuat terkejut lagi karena jika membayar memakai kartu kredit berlogo Visa, kami akan dapat bonus lagi yaitu chopper yang tampaknya memang khusus untuk bonus-bonus (karena paling kecil).

Sampai di sini, untungnya saya dan istri sadar betul bahwa ini modus jebakan yang sudah pernah menimpa teman dan saudara kami yang lain. Kami pun dengan tegas menyatakan tidak mengambil hadiah tersebut. Melihat gejala penolakan mereka pun terus merayu bahwa kesempatan ini sangat langka dan tidak bisa dipakai lagi di kesempatan lain. Dan ketika kami bersikukuh untuk tidak beli, ada staf ketiga (wanita) yang tampaknya punya kedudukan lebih tinggi ikut memaksa kami. Orang ketiga ini memakai metode sedikit memaksa dan menunjukkan wajah yang tidak bersahabat. Tampaknya, ketika metode halus tidak mempan, metode kasar mulai dikeluarkan.

Akhirnya kami tetap beranjak pergi, dan istri saya malah menawarkan balik sabun cuci piring yang digratiskan tadi jika memang mereka tidak ikhlas. Ternyata mereka tetap memberikan sabun gratis tadi meski dengan wajah yang sama sekali tidak ramah khususnya staf yang ketiga tadi.

Setelah kami terbebas dari jebakan itu, kami melanjutkan acara kami ke tempat lain di mall itu sambil memikirkan jalan pulang ke tempat parkir tanpa melewati booth itu lagi. Dalam hati saya berpikir, saya dalam posisi benar dan mereka yang salah tapi kenapa kami yang harus menghindar. Mungkin secara mental, saya jauh kalah kuat dengan mental mereka yang memang terbiasa melakukan itu.

Sekitar 30 menit kemudian ketika acara kami sudah selesai, kami menemukan eskalator lain yang bisa menuju tempat parkir. Namun, saya tetap bisa melihat dari jauh booth Aowa. Dan coba tebak apa yang saya lihat di booth Aowa ketika itu. Saya melihat si staf pria sedang menelepon menggunakan HP-nya kemudian kembali ke sebuah meja di mana ada pasangan seperti kami tadi. Setiba di meja korban, staf itu kembali mengajak bersalaman calon korban itu. Jelas sekali itu memakai modus yang sama dengan yang digunakan ke kami tadi.

Kembali, saya tak punya keberanian untuk menolong calon korban itu. Namun, dalam hati saya berjanji akan membagikan pengalaman ini ke teman-teman agar bisa terhindar dari modus penipuan ini.

Kalu kita lihat secara keseluruhan, Aowa memang tidak menipu tentang produknya. Namun jelas mereka menipu dalam mengarahkan pola berpikir pembeli. Pada dasarnya harga ketiga produk yang ditawarkan itu memang cuma berharga Rp 5jutaan, namun konsumen terlebih dahulu dibuat percaya bahwa produk-produk itu jauh lebih mahal. Cara ini mungkin lumrah kalau tidak disertai kebohongan. Sedangkan di kasus ini jelas ada kebohongan ketika kita dibuat seakan-akan mendapat kupon yang belum pernah ada yang mendapatkan itu.

Setelah kami mengingat-ingat, modus ini sebenarnya sudah pernah kami dengar karena teman dan saudara kami pernah menjadi korban dan membeli produk mereka. Sayangnya meski sudah pernah mendengar, kami tetap sempat masuk jebakan itu. Hanya saja kami akhirnya sadar dan tidak sampai membeli produknya.

Sebagai konsumen, sebenarnya sangat mungkin saya suatu saat akan membeli kompor Aowa tersebut meski dengan harga Rp 10jutaan karena kami ditunjukkan kualitas barang tersebut. Dan bahkan kalau dia bermain wajar, jujur dan membangun “brand”, saya yakin dia pasti dikenal sebagai brand produk-produk inovatif. Barang yang inovatif seperti itu tentu layak punya harga semahal itu. Sayang, justru karena modus itu, saya langsung menutup kemungkinan untuk membeli produk dengan brand itu. Saya sudah merasa sakit hati dan tidak simpatik dengan cara mereka berjualan. Dan tentunya kita pasti kasihan dengan korban-korban yang sudah termakan jebakan mereka.

Saya tidak habis pikir bagaimana mungkin ada usaha modern, resmi dan skala nasional seperti Aowa, yang dijalankan dengan modus penipuan seperti ini. Perlu kita tahu bahwa Aowa ini punya acara di TV Trans7 dengan menggunakan bintang iklan chef Rudi Choirudin. Bagaimana mungkin mereka mendidik semua sales force-nya untuk bersandiwara seperti itu? Dan bagaimana mungkin ini bisa terjadi sekian lama? Kenapa tidak ada pihak yang berusaha menghentikan modus seperti ini?

Bayangkan saja kalau misalkan ada 1 orang calon korban saja setiap jamnya yang berhasil didudukkan di mejanya, maka sangat mungkin ada banyak korban yang membeli produk itu setiap harinya.

Sekarang ini, sebenarnya sangat rawan menulis review negatif seperti ini. Tapi sekali lagi saya tidak ingin orang lain menjadi korban. Dan saya yakin banyak di antara kita yang sudah jadi korbannya. Bahkan, bila kita googling dengan kta kunci “penipuan Aowa” atau “korban Aowa”, kita pasti banyak menjumpai korban-korban yang seperti saya tulis di atas. Ini juga membuktikan bahwa modus ini sudah berlangsung lama, tapi masih juga berlangsung hingga kini. Semoga, dengan tulisan ini, kita bisa lebih berhati-hati dan bisa berbagi ke orang-orang di sekitar kita.

Yogyakarta, 14 Januari 2010

Hasyim MAH

Ditulis dalam Family, Uncategorized | Leave a Comment »

Gus Dur dan Islam Liberal*

Ditulis oleh hasyimmah di/pada Januari 5, 2010

Jika disuruh menilai Gus Dur, di masyarakat kita ada 2 kelompok fanatik. Dan kalo kita masih ada di salah satunya, menurutku kita termasuk orang yang menurut saya belum bisa berpikir secara jernih. Kelompok pertama adalah pengagum fanatik. Kelompok ini sama sekali tidak bisa melihat kekurangan Gus Dur. Semua yang dilakukannya pasti benar. Meski bukan mutlak, namun kebanyakan kelompok fanatik ini dari kaum muslim nahdliyin. Kelompok kedua adalah pembenci fanatik. Orang di kelompok ini tentu kebalikan dari kelompok pertama yaitu tidak bisa melihat kelebihan Gus Dur. Kelompok ini didominasi dari kelompok muslim non-liberal.

Di antara 2 kelompok fanatik di atas, ada kelompok ketiga yang mungkin bisa kita sebut kelompok liberal. Liberal di sini bisa saja dari orang muslim liberal dan juga bisa dari masyarakat non-muslim. Di kelompok tengah ini meski bisa melihat kelebihan dan kekurangan Gus Dur, mereka lebih suka menempatkan Gus Dur sebagai orang istimewa seperti halnya kelompok pertama dibandingkan kelompok kedua. Penilaian ini tentu dilahirkan dari menimbang kelebihan dan kekurangan Gus Dur.

Dari tiga kelompok yang ada jika kita hitung berapa kelompok orang yang setuju bahwa Gus Dur orang baik dan layak dipuji seperti ketika beliau meninggal, maka jelas bahwa jumlah kelompok pertama dan ketiga jauh lebih banyak dari kelompok kedua.

Dengan menggunakan logika di atas, maka kita bisa melihat banyak hal dari sejarah Gus Dur. Misalnya tentang banyaknya pasukan berani mati ketika Gus Dur akan diturunkan dari kursi presiden. Kelompok ini jelas dari kelompok pertama. Dan kita harus tahu bahwa yang meredam kelompok ini juga Gus Dur sendiri. Sedangkan musuh politik saat itu bisa saja dari kelompok kedua dan ketiga. Di saat seperti itu, kelompok kedua sudah pasti merasa punya kesempatan untuk menjatuhkan Gus Dur. Namun, kelompok ketiga juga banyak yang merasa bahwa Gus Dur memang harus diturunkan karena mereka juga bisa melihat kekurangan Gus Dur.

Begitu juga ketika Gus Dur meninggal. Kelompok pertama tentu merespon kematian ini dengan sanjungan yang luar biasa. Jika kita bertanya ke kelompok ini pasti kita tidak akan menemukan kesalahan pada diri Gus Dur. Kelompok kedua juga kita tahu pasti langsung memandang sinis sambutan dari masyarakat. Banyak tulisan di internet melalui blog-blog mereka berusaha melawan balik pujian-pujian yang diarahkan ke Gus Dur. Hal ini tentu wajar karena bagi mereka Gus Dur tidak punya kelebihan sama sekali. Nah, berbeda dengan saat Gus Dur dijatuhkan dari kursi presiden, kelompok ketiga kali ini tetap bisa memberi sanjungan luar biasa kepada Gus Dur.

Karena kelompok pertama dan ketiga semua menyanjung Gus Dur, tentu saja semua media juga mengarah ke situ. Kondisi ini bagi kelompok kedua adlaah karena media dikuasai oleh Yahudi dan sejenisnya. Padahal ketika media turut serta memberitakan kesalahan Gus Dur 8 tahun lalu, kelompok kedua ini sama sekali tidak menyatakan hal tersebut.

Jika kita masuk politik, pasti akan punya banyak “musuh”. Begitu juga Gus Dur. Begitu dia masuk ke arena politik, tentu akhirnya dia punya musuh. Secara lintas partai kita bisa sebut Amien Rais dan juga Megawati. Di dalam partainya sendiri kita tahu musuh-musuh Gus Dur dari jaman Matori Abdul Jalil sampai Muhaimin Iskandar. Namun, yang disebut musuh di sini adalah musuh di dunia politik. Makanya kita sama sekali tidak heran ketika musuh-musuh politiknya tetap mendukung Gus Dur mendapatkan gelar pahlawan nasional ketika beliau meninggal.

Tambahan
Kalau kita berdebat tentang ini, pasti tidak akan ada habisnya. Dan sebenarnya perdebatan itupun bukan tentang Gus Dur melainkan perdebatan tentang Islam liberal dan Islam non-liberal. Sudah, cuma itu. Kalo Anda bukan Islam liberal maka tentu tidak akan pernah menemukan kebaikan dalam diri Gus Dur.

Menurut saya, Anda sangat salah memahami paham liberal. Coba cek di wikipedia, apa saja pahamnya. Yang jelas di situ tidak ada kata yang berarti membenarkan agama lain. Toh ini bisa dibuktikan bahwa penganut Islam liberal bukan lalu dengan mudah menjadi murtad dan pindah-pindah agama. Inti dari ajaran Islam liberal adalah memberikan kebebasan bagi siapapun untuk menjalankan keyakinannya. Kita tidak bisa memaksa orang lain mempunyai sudut pandang seperti kita.

Saya pribadi sangat menyayangkan jika generasi muda seperti Anda masih berpikir seperti yang Anda pikirkan. Tapi sebagai orang yang merasa liberal, saya tentu menghargai pendapat orang lain termasuk kepada orang yang kurang bisa menghargai pendapat orang lain.

Mojokerto, 5 Januari 2010
Hasyim MAH

*ditulis untuk menjawab surat seorang teman…

Ditulis dalam Politik | Leave a Comment »