Tulisan ini dibuat 1 hari menjelang dibacakannya hasil Pansus DPR mengenai Kasus Bank Century. Namun, terlepas apa pun hasilnya besok, saya ingin berusaha menilai kasus ini tanpa adanya keberpihakan atau kepentingan politik lainnya.
Kasus ini sebenarnya memperlihatkan dengan jelas kepada kita bahwa kepentingan politik selalu mengalahkan kepentingan bangsa secara umum. Bagi politisi Senayan yang berseberangan dengan pemerintah, ketika ada peluang untuk menjatuhkan kredibilitas pemerintah, apapun akan dia lakukan. Begitu juga sebaliknya bagi politisi yang pro-pemerintah, apapun dia lakukan untuk bisa menyelamatkan pemerintahan. Kedua kubu akhirnya melupakan tugas utama mereka dan hasilnya, program pemerintah pun akhirnya banyak terbengkalai karena kasus ini. Dan rakyat juga yang akhirnya jadi korban.
Apakah Boediono dan Sri Mulyani Bersalah?
Boediono (selaku Gubernur BI) dan Sri Mulyani (selaku Menkeu) bisa kita nggap salah, namun bukan berarti salah seperti yang banyak dituduhkan. Banyak pihak yang secara kasar bilang bahwa mereka pencuri. Saya rasa ini tuduhan yang berlebihan.
Boediono dan Sri Mulyani adalah yang paling bertanggung jawab atas kebijakannya mengeluarkan bailout. Namun hal ini tidak bisa kita salahkan karena ini hanya masalah kebijakan. Mengenai ada pendapat ahli yang menyatakan bahwa kebijakan ini salah, ini hanya masalah madzhab ekonomi.
Menurut Boediono dan Sri Mulyani, Century harus diselamatan karena akan berdampak sistemik. Ekonom lain berpendapat berbeda. Nah, masalah pendapat ini tentu tidak bisa kita jadikan alasan untuk menyalahkan Boediono dan Sri Mulyani, karena kebijakan itu muncul juga didasari pendapat mereka sebagai ahli ekonomi.
Hanya saja Boediono dan Sri Mulyani bisa saja kita salahkan jika bailout yang bernilai Rp 6,7 T itu ternyata salah perhitungan. Dan seandainya angka ini memang salah hitung (salah data dari bawahannya), itu juga bukan berarti kita bisa menuduh Boediono dan Sri Mulyani sebagai orang jahat yang mencuri uang negara. Namun sebagai petinggi negara tentu mereka berdua harus bertanggung jawab atas kelalaian mereka. Bagaimana mungkin pejabat setinggi itu bisa mendapatkan data yang salah mengenai uang negara yang begitu besar. Pertanggungjawaban ini memang bisa berupa pengunduran diri dari jabatan mereka sekarang ini. Langkah ini tentu merupakan langkah yang paling bijak bagi keduanya.
Namun, di sini kembali saya tegaskan, akan sangat tidak adil jika kita menuduh mereka sebagai pencuri atau orang jahat. Mereka berusaha menjalankan tugas mereka dengan baik. Hanya saja mereka mendapatkan data yang keliru. Mereka sama sekali tidak mencari keuntungan pribadi dari kasus ini.
Hal ini juga berlaku terhadap pemerintahan SBY. Tuduhan bahwa dana tersebut mengalir ke tim sukses SBY saya rasa itu mengada-ada. Kita harus akui bahwa popularitas SBY pada pilpres kemarin memang luar biasa. Mereka tidak perlu dana sebesar itu untuk memenangkan pemilu apalagi dari sumber dana yang tidak jelas seperti itu.
Secara Hukum Siapa yang Perlu Dihukum?
Satu-satunya pencuri dalam kasus ini adalah Robert Tantular dan kroninya. Merekalah yang harus dihukum berat atas kerugian negara dan nasabah. Robert jugalah yang membuat skenario bagaimana bisa mengelabui BI dan Depkeu agar memberikan bailout kepada Bank Century.
Maka dari itu, yang paling mendesak kita lakukan sekarang ini adalah menelusuri dana bailout itu dan berusaha menyelamatkan uang negara dengan cara mengusut tuntas aset-aset dari Robert Tantular. Perlu kita ketahui bahwa Robert juga merampok habis harta sesama investor Bank Century.
Jika kita memang benar-benar ingin menyelamatkan kekayaan negara, mari kita fokus ke Robert Tantular, bukan kepada sisi politis seperti yang dilakukan Pansus di DPR sekarang ini. Buang-buang energi, waktu dan hanya menyuguhkan sinetron politik ke masyarakat.
Melihat fakta tersebut, tentu kita sangat sedih bahwa seorang Robert Tantular bisa mengobrak-abrik negara seperti sekarang ini. Dan celakanya, para wakil rakyat lebih suka berheboh-heboh ria tanpa memperhatikan secara jernih inti persoalan ini.
Mojokerto, 2 Februari 2010
Hasyim MAH

