Hasyim MAH Blog

Berharap Adanya Diskusi

Arsip untuk ‘Movie Review’ Kategori

Menilai Film Avatar

Posted by hasyimmah pada Februari 16, 2010

James Cameron bisa dibilang menjadi raja perfilman dunia saat ini. Gimana nggak? Film Titanic garapannya 13 tahun lalu menjadi film terlaris (berpendapatan terbesar) sepanjang masa dan nggak terpecahkan sampai awal tahun ini. Jika kita lihat kesuksesan Titanic, bisa saja kita bilang kalo itu kebetulan. Tapi begitu rekor Titanic itu pecah di awal tahun ini, oleh film Cameron lagi yaitu Avatar, maka kita nggak bisa bilang itu kebetulan. Lebih hebat lagi, selama 13 tahun ini Cameron sama sekali nggak buat film yang lain. Mungkin bagi Cameron, sekali buat film harus luar biasa.

Sebenarnya Cameron nggak sepenuhnya libur kerja selama 13 tahun ini. Dia sempat juga bikin film tapi berupa film dokumenter. Film-film ini tentu saja bukan dimaksudkan untuk bertarung di kancah Hollywood. Cameron memang sangat selektif dalam memilih film yang akan dikerjakan. Dan menurut berita Cameron telah mulai mengerjakan Avatar ini sejak 4 tahun yang lalu. Ini menunjukkan pada kita bahwa film Avatar tergolong film yang “sulit” pengerjaannya.

Di film ini, Cameron bukan cuma menjadi sutradara tapi juga sebagai pembuat cerita. Semua ide tentang film ini benar-benar dari Cameron. Dan sebenarnya film ini adalah impian Cameron sejak sebelum dibuatnya film Titanic. Cameron baru membuat film ini 4 tahun lalu karena teknologi sebelum itu dianggap belum bisa menerima idenya.

Lalu apa aja sih yang luar biasa (dan juga kekurangan) dari film ini?

Efek Visual Avatar

Di film ini, kita sama sekali nggak bisa mencela soal efek visual. Kita bisa bisa bilang bahwa ini film dengan visual efek terbaik. Apalagi jika kita melihat film ini dalam versi 3D, wah, mata kita dimanjakan selama 2 jam 40 menit dengan gambar yang luar biasa.

Kita sebenarnya sadar bahwa gambar di film ini adalah gabungan antara gambar realita dan animasi CGI. Namun, gabungan ini sama sekali nggak terlihat sambungannya dan kita bisa melihat dengan nyaman seakan-akan semua gambar adalah realita. Teknologi di sini diapakai dengan sempurna sehingga sulit menemukan kejanggalan di film ini dalam hal efek visual.

Efek visual inilah yang mempunyai porsi terbesar dalam pembuatan film. Baik dari sisi jumlah crew sampai biaya yang dikeluarkan. Cameron yang perfeksionis benar-benar hanya ingin menggunakan teknologi terkini dengan orang-orang terbaik di bidangnya. Asal tahu aja bahwa biaya produksi dan pemasaran film ini mencapai USD 500 juta dan hampir separuhnya habis untuk efek visual ini.

Imajinasi Pandora

Film ini bercerita dengan setting tahun 2154 di mana manusia sudah menemukan planet lain yang berpenghuni makhluk hidup. Di tahun itu, bukan sekadar menemukan, manusia juga sudah bisa mendatangi planet tersebut.

Planet tersebut bernama planet Pandora. Planet ini dihuni makhluk bernama bangsa Na’vi yang mirip manusia namun mempunyai tinggi lebih dari 3 meter. Selain Na’vi, planet ini juga seperti bumi yang ada hewan dan tumbuhannya.

Meski Na’vi lebih tinggi dan kuat dibanding manusia, secara teknologi mereka masih jauh tertinggal dari manusia. Bahkan jika melihat kehidupan Na’vi, mereka masih seperti manusia purba. Baju ala kadarnya, rumah masih di pohon, kendaraan masih menggunakan hewan dan senjata masih senjata tajam beracun.

Untuk membuat Planet Pandora, tentu menjadi tantangan tersendiri bagi Cameron. Kita bisa bilang bahwa Cameron mencoba untuk jadi Tuhan. Bayangkan saja, untuk membuat film tampak sempurna dia harus membuat manusia baru, bahasa baru, hewan baru, tanaman baru hingga alam baru. Tentu saja ini sangat sulit. Makanya di sini Cameron tetap meangadopsi bumi sebagai satu-satunya kehidupan yang sudah kita ketahui.

Makhluk utamanya tetap seperti manusia meski jauh lebih tinggi. Tetap berdiri di atas 2 kaki, punya 2 tangan, 1 kepala, 2 telinga dan susunan tulang (sendi) yang sama dengan manusia.

Mengenai hewan, juga nggak jauh dari yang sudah ada di bumi. Misalnya mengadopsi bentuk kuda, monyet, badak, singa, anjing (srigala), burung serta beberapa serangga. Kuda tetap berfungsi sebagai kendaraan sekaligus alat perang. Selain itu Na’vi juga mengendarai burung besar. Bentuk burung besar ini mengadopsi bentuk burung raksasa di jaman dinosaurus.

Nah, dengan mengadopsi makhluk yang sudah ada di bumi, Cameron tinggal merubah sedikit-sedikit. Misalnya semua hewan yang asalnya berkaki 4 dijadikan berkaki 6. Alat bernapas bukan lagi di hidung/kepala namun ditaruh di pangkal leher. Selain kaki, mata juga ada yang ditambah menjadi 4 buah.

Mengenai tumbuhan, Cameron juga berusaha banyak “menciptakan” tumbuhan baru meski tetap mengadopsi tumbuhan bumi. Namun tampak sekali Cameron sangat suka dengan tumbuhan responsif yang diadopsi dari tumbuhan “putri malu”. Selain itu, Cameron lebih suka menciptakan tumbuhan yang bercahaya di malam hari. Makanya di film ini kita akan banyak melihat tumbuhan yang bergerak atau bercahaya ketika disentuh/diinjak.

Namun, selain bentuk tumbuh-tumbuhan baru itu, Cameron nggak membuat semua serba baru. Karena tentu saja dia bukan tuhan. Misalnya mengenai bentuk daun, bentuk pohon pada umumnya serta motif dan warna akar yang jelas sama dengan di bumi.

Sedangkan mengenai alam dan lanskap, Cameron berusaha menciptakan perbedaan yang ekstrim di beberapa tempat terutama di bagian gunung. Di situ Cameron menciptakan “bukit terbang” yang lilit akar tumbuhan sehingga mengesankan melayang. Selain lanskap, alam di Pandora hampir sama dengan bumi. Misal percepatan gravitasi dan tekanan udara yang tampaknya dibuat sama supaya nggak terlalu bikin pusing Cameron. Namun meski bertekanan sama, unsur udara di Pandora dibuat berbeda sehingga manusia harus memakai masker khusus untuk bisa bernapas di alam bebas.

Imajinasi Teknologi

Untuk membuat film bersetting tahun 2154 tentu dibutuhkan imajinasi yang sangat tinggi terutama yang menyangkut teknologi. Dan teknologi baru yang ditampilin Cameron antara lain adalah bentuk pesawat, helikopter, peralatan komputer dan robot yang bisa dikendalikan manusia dari dalam.

Untuk imajinasi teknologi ini tentu bukan barang baru bagi Cameron khususnya mengenai robot. Kita tahu Cameron juga sangat imajinatif ketika membuat film Terminator 1 dan Terminator 2 pada akhir dekade 80-an. Saat itu film Terminator 2 juga menjadi film yang menggunakan teknologi terbaru dalam pembuatan film.

Yang paling baru dan paling menarik dalam film Avatar bukan terletak pada robot, pesawat atau helikopter tapi lebih kepada monitor komputer. Monitor komputer di film ini hanya berupa lapisan bening seperti kaca. Ada yang datar dan berukuran biasa, juga ada yang berbentuk lengkung dan panjang. Semua monitor tembus pandang dari belakang sehingga bisa dilihat dari belakang (meski tulisan tetap tak terbaca dari belakang). Monitor datar ini juga bisa mengeluarkan gambar 3D yang bisa dilihat dari samping atau belakang.

Selain monitor yang terpasang di meja, ada juga monitor (sekaligus CPU-nya) yang bisa dibawa-bawa dan terkesan ringan. Bentuknya juga cuma seperti kaca bening tapi ringan. Dan sangat menarik ketika ada adegan operator memindah data dari komputer meja ke monitor tersebut hanya dengan menyeret dengan tangannya. Jadi nggak perlu lagi flash-disk lalu copy dan seterusnya. Cukup diseret seperti orang ngelap kaca dan data itu pun sudah ada di monitor yang bisa dibawa-bawa tadi.

Itu belum semua, ada lagi monitor yang berbentuk seperti meja besar. Di meja ini, kita bisa menampilkan hasil pantauan satelit secara 3D di atas meja tersebut. Jadi dengan monitor meja ini, kita seperti melihat Google Earth dalam versi 3 dimensi. Wow, idenya keren sekali.

Semua imajinasi teknologi di atas tentu hanyalah impian. Tapi sangat mungkin suatu saat semua itu akan terwujud, bahkan sebelum tahun 2154. Sebagai perbandingan, kita bisa lihat film James Bond yang jadul-jadul juga mempunyai impian mengenai teknologi dan sekarang semua itu sudah terwujud. Jadi impian manusia yang diwujudkan pada film biasanya memacu para ilmuwan untuk mewujudkannya. Terima kasih film…

Dan imajinasi paling liar dalam film ini adalah tentang istilah avatar itu sendiri. Avatar adalah teknologi kloning terhadap bangsa Na’vi yang kemudian bisa dikendalikan oleh manusia yang gen-nya ditanamkan. Untuk yang satu ini rasanya bukan teknologi yang baik untuk diciptakan.

Di antara imajinasi masa depan yang luar biasa itu, ada hal yang sedikit dilupakan oleh Cameron yaitu masalah fashion dan penampilan. Baju yang diapakai dalam film ini sama persis dengan yang kita pakai sekarang ini. Kemeja cowok, kaos cewek, seragam militer sampai tatanan rambut, semuanya sama dengan trend sekarang ini. Padahal trend fashion dan penampilan cenderung lebih mudah berubah setiap dekade.

Jalan Cerita

Mungkin hanya di faktor ini, kelemahan yang paling fatal dari film Avatar. Bisa dibilang ide cerita film ini nggak jauh beda dengan film Pocahontas hanya saja Avatar merubah orang Indian menjadi bangsa Na’vi di planet Pandora yang dijajah sama manusia modern.

Ceritanya sederhana dan klasik. Manusia modern menjajah suatu bangsa primitif dan kemudian ada orang-orang dari rombongan manusia modern tadi yang membelot dan memimpin perlawanan terhadap penjajah. Dan seperti biasa, pembelotan ini didasarkan pada unsur kemanusiaan dengan bumbu percintaan.

Menanggapi jalan cerita yang sederhana ini ada pro dan kontra di kalangan penikmat film. Pendapat pertama mengatakan nggak peduli dengan cerita. Film ini tetap film terbaik sepanjang masa. Bagi kalangan ini, film tergantung siapa yang mengemas. Bagi mereka Cameron sangat canggih dalam memberi kemasan. Bahkan di sebuah blog seorang penikmat film mengatakan bahwa Cameron bisa menyajikan (memasak) tempe sehingga seperti steak.

Pendapat kedua, menempatkan cerita sebagai nilai negatif bagi Avatar meski mengakui kelebihan yang lain. Pendapat ini sama dengan pendapat penulis. Bagi penulis, unsur utama dari sebuah film tetap ada di jalur cerita. Itulah kenapa film seperti Forrest Gump, A Beautiful Mind, No Country for Old Men dan Slumdog Millionaire, yang termasuk sedikit efek visualnya, bisa memenangkan film terbaik di ajang Academy Award. Demikian juga film-film Indonesia yang masih jauh ketinggalan di bidang efek visual akhirnya harus lebih banyak bersandar ke unsur cerita. Dan hasilnya, masih banyak film nasional yang bisa berkiprah di festival film internasional.

Efek visual tentu sangat penting, tapi itu lebih bertujuan untuk menyempurnakan cerita. Kalau unsur ceritanya belum bagus, efek visual tetap kurang mampu mengangkat kualitas film secara keseluruhan.

Di antara kelebihan dan kekurangan film Avatar di atas, secara keseluruhan film ini memang luar biasa. Antusias penonton yang menempatkan Avatar menjadi film terlaris sepanjang masa tentu menjadi poin penting dalam menilai film ini.

Hanya saja, untuk merebut posisi Film Terbaik (Best Picture) di ajang Academy Awards bisa jadi masih berat. Ini dikarenakan Avatar akan sangat sulit mendapat gelar terbaik untuk pemain (aktor/aktris)-nya. Kita tahu bahwa pemeran Avatar lebih banyak didominasi makhluk Na’vi yang dalam berperan lebih banyak unsur efek visual. Jadi untuk menilai kualitas akting para pemeran Avatar akan kesulitan dan ini berarti akan sulit mendapatkan piala Oscar.

Overall, kita harus angkat topi untuk James Cameron dan Avatarnya. Rekor terlarisnya mungkin akan sangat-sangat lama baru bisa terpecahkan… *(HM18)

Ditulis dalam Movie Review | 6 Komentar »

Sang Pemimpi (The Movie): Semua Itu Berawal Dari Impian

Posted by hasyimmah pada Januari 5, 2010

Ini dia sekuel Laskar Pelangi yang udah ditunggu-tunggu. Petualangan Ikal dalam mencapai impiannya ini tersajikan dengan baik sekali dalam film yang berjudul sama dengan bukunya: Sang Pemimpi. Film ini, menurut Andrea Hirata, sang penulis bukunya, memang luar biasa dan bahkan tiga kali lebih bagus dari film seri pertamanya. Bener nggak sih?

Biar adil, untuk menilai film ini, seharusnya kita menilai berdasarkan 2 aspek yaitu kualitas film itu sendiri dan respon masyarakat penikmat film Indonesia. Kalo berdasarkan aspek pertama, yaitu mengenai kualitas, film Sang Pemimpi ini memang lebih nyaman ditonton bahkan oleh orang yang belum membaca bukunya. Namun juka kita lihat dari aspek kedua, film ini kalah jauh dari film pertamanya. Ini bisa saja karena promonya yang kurang atau sebab lain, namun yang pasti penonton film kedua ini nggak sebanyak film pertamanya yang memecahkan rekor penonton film nasional.

Kurangnya promo memang bisa jadi penyebab utama. Kondisi ini jauh berbeda dengan ketika film Laskar Pelangi dulu diluncurkan. Namun penyebab lain juga turut membuat sambutan masyarakat kurang meriah dibandingkan yang pertama. Misal banyaknya film bagus yang dirilis hampir bersamaan dengan Sang Pemimpi di akhir tahun 2009 kemarin. Kamu tahu, sejak November, kita disuguhi banyak sekali film box office yang memang ditunggu banyak pecinta film. Sebut saja 2012, The Twilight Saga New Moon, Avatar sampai Sherlock Holmes yang luar biasa laris baik di Amrik sana maupun di negeri kita juga. Makanya nggak heran kalo sambutan masyarakat terhadap film karya Riri Riza ini nggak terlalu heboh seperti dulu.

Kalo kita melihat novel Sang Pemimpi, kita harus akui bahwa novel jilid kedua (dari 4 judul) ini adalah novel terbagus bahkan jika dibanding Laskar Pelangi (jilid pertama). Jika di buku pertama kita dibuat kagum dengan suguhan latar belakang Ikal (kondisi daerah dan orang-orang di sekitarnya), di buku kedua ini kita lebih disuguhkan perjuangan sesungguhnya Ikal dalam mencapai cita-citanya itu. Perjuangan inilah inti dari semua perjalanan Ikal dari kecil hingga dewasa ini. Maka dari itu, sebenarnya sayang banget kalo film kedua ini malah nggak banyak yang menonton karena semangat Ikal dalam mencapai cita-cita mampu dilukiskan dengan baik di sini.

Riri Riza, sang sutradara, memang menjadi orang yang paling patut diacungi jempol untuk film ini. Meski begitu, Riri tampaknya masih kesulitan bagaimana menggambarkan kondisi masa lalu Ikal tanpa harus mengucapkan narasi. Narasi tetap memegang peran besar untuk menjelaskan “dengan lebih cepat” kepada penonton. Hal ini wajar bagi film yang mengadopsi cerita dari novel. Media film terasa sangat pendek jika harus mengangkat semua isi cerita di dalam bukunya.

Hal seperti ini juga terjadi di film Harry Potter. Hanya saja di Harry Potter, sang sutradara bisa lebih kreatif dengan cara memperlihatkan judul-judul berita di koran Daily Prophet. Penunjukan judul-judul berita ini pada dasarnya sama dengan narasi yaitu menceritakan “dengan lebih cepat” supaya film nggak terlalu panjang.

Namun, secara keseluruhan Riri Riza mampu membuktikan bahwa dia nggak pernah mengecewakan penonton. Film-filmnya selalu mampu tampil beda jika dibandingkan dengan film-film nasional yang lain.
Di Laskar Pelangi, perjalanan Ikal digambarkan sampai lulus SD di desanya. Di film kedua ini, cerita berfokus kepada masa SMA-nya. Dan karena di desa Ikal nggak ada sekolah setingkat SMA, maka Ikal harus nge-kos di Manggar untuk melanjutkan sekolah di sana.

Selama menjalani sekolah di SMA ini, Ikal ditemani oleh Arai, sepupunya yang sejak ditinggal mati ortunya tinggal bersama keluarga Ikal. Ikal dan Arai kemudian menjalin persahabatn dengan Jimbron yang juga senasib sepenanggungan. Ketiga sekawan ini berjuang bersama untuk menyelesaikan masa SMA mereka. Untuk bersekolah ini mereka harus bekerja di pasar ikan.

Mereka bekerja bukan hanya sekedar untuk hidup dan biaya sekolah di masa SMA itu, namun mereka juga menabung untuk persiapan menggapai cita-cita mereka setelah lulus SMA yaitu kuliah di Jakarta. Melihat kondisi mereka saat itu, cita-cita mereka terasa naif, apalagi sempat ada kejadian di mana uang hasil tabungan mereka harus mereka serahkan ke orangtua Ikal. Namun sekali lagi, perjuangan memang nggak boleh berhenti.

Berbagai kendala dan gelombang hidup yang dialami oleh Ikal dan sahabatnya itu nggak pernah menyurutkan impian mereka. Pengalaman-pengalaman yang kadang lucu, konyol, dramatis dan nggak terlupakan itulah yang akhirnya membentuk karakter Ikal dewasa.

Kisah cinta di Sang Pemimpi ini justru dialami oleh Arai dan Jimbron. Sedangkan bagi Ikal sendiri malah nggak ada cerita cinta sama sekali. Sepanjang film, hanya sekilas diperlihatkan kotak (tempat menyimpan uang) milik Ikal yang itu merupakan kota pemberian dari A Ling, cinta sejati bagi Ikal. Selain itu, Ikal bener-bener libur dari urusan percintaan.

Tokoh Penting
Dari sisi tokoh, ada beberapa tokoh yang kalo dibandingkan akan punya peran yang sama antara tokoh di Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Arai, sahabat terdekat Ikal di masa SMA. Peran tokoh ini bisa dibilang sama pentingnya dengan Lintang yang dulu menjadi sahabat Ikal di waktu SD.

Lalu Jimbron, sahabat terdekat kedua di masa SMA. Posisi Jimbron ini bisa dibandingkan dengan posisi Mahar di Laskar Pelangi. Meski nggak sedekat dengan Lintang atau Arai, posisi Mahar dan Jimbron memang nggak bisa dianggap remeh. Peran mereka besar bagi Ikal.

Di Laskar Pelangi, kita mengenal sosok guru Bu Muslimah yang sangat menginspirasi Ikal. Kali ini, guru yang paling spesial adalah Pak Balia yang diperankan oleh Nugie. Di samping guru ini, ada juga peran sekolah yang menonjol baik waktu SD dulu maupun di saat SMA ini.

Peran orang-orang di sekitar Ikal memang sangat peting bagi kehidupannya. Kehadiran mereka ini bisa mempertahankan motivasi Ikal yang terkadang turun. Memang, dalam hidup terkadang kita dihadapkan dengan kondisi yang bisa membuat kita putus asa. Namun, semua kembali pada diri kita sendiri, apakah kita menyerah atau tetap yakin bahwa kita bisa menggapai itu semua. Dengan melihat film ini, rasanya kita bisa lebih termotivasi dalam mencapai impian kita. Ingat, dalam lirik lagunya Anggun: Dreams aren’t made to be erased… *(HM18)

Ditulis dalam Movie Review, Peace Magazine | 1 Komentar »

Bicara Tentang Timeline Terminator

Posted by hasyimmah pada Juni 10, 2009

Terminatro Salvation

Akhirnya bisa nonton Terminator Salvation (T4) juga… Dan seperti yang udah banyak diomongin, film ini action-nya keren, tapi ceritanya minim. Tapi di sini aku nggak bahas film T4 ini aja, tapi malah pengen bahas soal cerita Terminator secara keseluruhan sejak The Terminator (T1) sampai T4 ini.

 

Kejanggalan di T2

Kalo kita lihat lebih teliti keempat film Terminator, kita sudah bisa menemukan kejanggalan sejak dirilisnya T2 pada tahun 1991. Padahal film ini banya dianggap terbaik karena masih dikerjakan langsung oleh James Cameron.

Film T1 dirilis tahun 1984 dengan setting waktu yang sama dengan rilisnya film yaitu 1984. Film T2 dirilis tahun 1991. Setting film T2 ini nggak dibicarakan di dalam film. Mungkin kebanyakan penonton menganggap bahwa setting film juga sesuai tahun rilis film yaitu 1991. Apalagi di awal film T2 dikatakan bahwa Judgment Day akan terjadi tanggal 29 Agustus 1997. Jadi, orang banyak yang anggap bahwa T1000 dikirim pada tahun 1991. Kita setuju bahwa kejadian di T2 membuat Judgment Day tertunda (postponed), tapi logikanya kejadian di T2 harus terjadi sebelum tanggal 22 Agustus 1997.

Dan sayangnya, itu ternyata salah. T101 pertama dikirm tahun 1984, saat itu Sarah Connor baru hamil. Jadi John Connor baru lahir tahun 1985. Kejadian T2 terjadi ketika John berusia 13 tahun yang berarti tahun 1998. Nggak mungkin banget kan kejadian di tahun 1998 menunda kejadian yang sudah terjadi di tahun 1997.

Orang kebanyakan menganggap bahwa kejadian T2 itu terjadi di tahun 1991, padahal tahun 1991, John masih berumur 6 tahun.

James Cameron sendiri tampaknya mengharap kejadian di T2 ini berlangsung di tahun 1994. Kenapa? Karena dia menggambarkan dari awal film T2 bahwa Terminator ini dikirim dari tahun 2029. Dan ketika John tanya ke T101 siapa yang mengirim T101, maka dijawab bahwa John yang mengirim 35 tahun kemudian. Berarti masa itu adalah 35 tahun sebelum tahun 2029 yang berarti tahun 1994. James mengira tahun 1994 lebih realistis karena Judgment Day terjadi tahun 1997. Namun dia lupa kalo tahun 1994, John barus berusia 9 tahun.

 

Kapan Judgment Day Terjadi?

Seperti yang sudah aku sebut di atas, Judgment Day (JD) seharusnya terjadi tahun 1997. Dan karena proyek Cyberdyne lalu dihancurkan, JD tertunda. Kejadian JD baru bener-bener terjadi di T3. Namun sayang, sepanjang film T3, sama sekali nggak disebutin setting film tersebut yang berarti kita juga nggak tahu kapan JD terjadi.

Namun kita bisa kira-kira bahwa JD terjadi di atas tahun 2003 dan sebelum tahun 2018. Di atas tahun 2003 karena di T4 digambarkan bahwa Marcus dieksekusi di tahun 2003 dan saat itu belum JD. Sebelum tahun 2018 karena setting T4 adalah tahun 2018 dan saat itu sudah terjadi JD.

Kita memang nggak bisa tahu pasti kapan JD terjadi. Di awal T4 pun hanya disebutin “awal abad 21” tanpa menyebut tahun yang pasti.

 

Kapan Kyle Reese Dikirim?

Kyle Reese dikirim tahun 2029 di saat sejarah menyatakan bahwa JD terjadi tahun 1997. Namun di saat sejarah berubah karena JD tertunda, apakah Kyle Reese tetap harus dikirim tahun 2029, rasanya itu terserah si pembuat cerita, toh sejarah memang sudah berubah. Yang pasti, saat dikirim, Kyle Reese seharusnya masih belum tahu bahwa dia adalah ayah dari John. Dan tugas Kyle pada dasarnya adalah menyelamatkan Sarah, bukan menghamili Sarah.

Soal Kyle ini, ada juga sedikit kejanggalan di T4. Ketika John bercerita ke Marcus tentang Sarah dan Kyle sebagai ayah ibunya, tiba-tiba Marcus bilang bahwa dia baru bertemu Kyle. Padahal Marcus seharusnya belum tahu kalo ayahnya John berusia lebih muda karena nanti dikirim ke masa lalu. Kalo dia baru bertemu anak muda bernama Kyle Reese, Marcus harusnya tetap nggak tahu kalo Kyle yang ditemui itu sama dengan Kyle yang merupakan ayahnya John.

 

Kapan Mesin Waktu Ditemukan?

Hal ini nggak pernah disinggung dalam film Terminator. Bagaimana wujud mesin waktu, siapa yang menemukan pertama apakah dari pihak Skynet atau manusia, dan kapan mesin waktu ditemukan itu terus menjadi pertanyaan. Istilah komputer, robot, mesin atau Skynet dalam hal ini berarti sama.

Yang jelas pengiriman terminator di T1 (Kyle Reese dan T101) dan T2 (T101 dan T1000) sama-sama terjadi di tahun 2029. Sedangkan pengiriman terminator di T3 (T850 dan T-X) terjadi setelah tahun 2032 atau setelah John tewas.

Dari barisan waktu tersebut, kita bisa ambil kesimpulan bahwa tahun 2029, terjadi perkembangan teknologi yang luar biasa cepat. Dari pihak Skynet, awalnya belum bisa bua T1000, tapi di tahun yang sama Skynet sudah bisa membuat T1000. Di pihak manusia sendiri, awalnya belum bisa memprogram ulang (reprogram) T101, tapi kemudian di tahun yang sama sudah bisa reprogram T101.

Karena cepatnya perkembangan teknologi di tahun ini, makanya sangat mungkin kalo mesin waktu itu sendiri ditemukan di tahun ini.

 

Robot Tercanggih

Sebelum kita nilai mana yang lebih canggih, lebih baik kita kenali dulu robot-robot yang ada di Terminator. Tapi yang kita bahas cuma yang berbentuk manusia aja, jadi kita nggak bahas soal Moto-Terminator, Hydrobot, Aerostat, Harvester atau yang lain.

Secara bentuk, entah kenapa Skynet masih menyukai bentuk seperti manusia. Mungkin bentuk ini dianggap lebih pintar dalam memburu manusia. Bahkan kantor Skynet di tahun 2018 pun masih humanistis. Ada pintu dengan tombol PIN, lorong, ruangan ber-AC (tampaknya) dan keyboard touchscreen. Dari desain itu, tampaknya Skynet masih pengen semua hasil budayanya masih seperti hasil budidaya manusia. Hehe semakin kacau nih tulisan… ngayal banget!!

Robot T600: adalah robot berkerangka manusia tapi dibiarkan telanjang tanpa daging. Robot ini semacam jadi figuran ketika para robot bergerilya mencari manusia setelah judgment day. Kita lihat robot ini sejak T1 sampai T4. Semuanya selalu jadi figuran. Robot pembunuh ini selalu membawa senapan otomatis atau senjata laser. Cara menghancurkan robot ini adalah dengan menembaknya di bagian kepala. Cara membunuh robot ini ditunjukkan di T4 ketika John menembak T600 di bawah kaki helikopter atau menjatuhinya dengan benda besar dan berat.

Robot T101: adalah robot pertama yang kita lihat di film T1. Robot T101 ini sebenarnya bisa kita anggap sama dengan T800 dan T850. Robot ini punya rangka logam keras dengan dibalut dengan jaringan hidup (cybernetic organism). Robot ini kita lihat di T1 sampai T3 yang merupakan kiriman dari tahun 2029 ke atas. Robot ini cocok untuk menipu manusia karena mempunyai bentuk yang sama dengan manusia. Setidaknya mulai yahun 2029, manusia berhasil memprogram ulang robot ini untuk membela manusia.

Robot T1000: adalah robot dengan komposisi logam cair. Kita lihat robot ini di T2. Meski bisa membalut tubuhnya dengan baju sesuai keinginannya, robot ini seperti robot yang lain, muncul pertama kali dengan telanjang. Baru ketika bertemu orang lain yang kebetulan polisi, T1000 langsung menduplikat pakaian polisi. Robot ini semacam mempunyai program di setiap sel-nya. Meski terpisah, bagian-bagian robot ini selalu tahu siapa dirinya. Mungkin chip-nya diprogram layaknya DNA manusia.

Kelebihan T1000 adalah bisa meniru tubuh siapa saja beserta pakaiannya dengan warna yang dikehendaki. Dan karena tanpa rangka, robot ini juga bisa memipihkan badannya di lantai sehingga kehadirannya nggak terlihat. T1000 tidak mempunyai senjata yang tertanam (bawaan), namun tangannya bisa dibentuk apa saja misalnya senjata tajam. Robot ini baru dibuat tahun 2029 dan langsung dikirim ke masa lalu untuk membunuh John Connor remaja. Belum pernah diketahui robot ini bisa diprogram ulang oleh manusia. Inilah mengapa ketika Skynet mengirim T-X ke masa lalu, manusia tetap mengirim T800, bukan T1000.

Robot T-X: Robot ini paling canggih dari sisi tahun pembuatan. Robot ini dibuat di atas tahun 2032. T-X merupakan robot pertama yang didesain dengan tubuh wanita. Robot ini gabungan antara T101 dengan T1000 plus ditambahi banyak kecanggihan yang lain. T-X mempunyai rangka seperti T101, namun, rangka ini nggak dibalut dengan jaringan hidup namun dibalut dengan logam cair seperti T1000.

T-X ini juga mempunyai software yang jauh lebih canggih dari pendahulunya karena bisa memprogram ulang robot lain. Selain itu, rangka di dalam logam cairnya itu dilengkapi dengan berbagai senjata berupa senjata api atau peralatan “tukang” lainnya. Jadi biarpun cewek robot ini bisa mengerjakan pekerjaan tukang karena punya gergaji dan las. Sama dengan T1000, robot ini nggak bisa kotor karenapenampilannya selalu bisa diperbarui oleh logam cair yang dimilikinya.

Dan yang paling konyol adalah ketika T-X menoleh menatap dirinya berjalan di kaca kamar mandi ketika sedang bertarung dengan T800. Seakan-akan, T-X ingin berkaca dan melihat penampilannya sendiri. Wah… ini robot bener-bener diberi unsur feminim! Hahaha…

Sama seperti T1000, meski bisa membuat baju dan mengatur rambut sendiri, T-X dikirim dalam kondisi telanjang dengan rambut berantakan. Baru ketika bertemu wanita lain, dia meniru gaya berpakaian dan juga rambutnya. Seandainya dia pertama kali bertemu dengan ibu-ibu kondangan, bisa jadi T-X mengubah rambutnya dengan gaya konde… hehehe…

Meski punya banyak kelebihan dibanding T1000 karena punya banyak senjata, namun dia punya satu kelemahan dibanding T1000 yaitu nggak bisa merubah bentuk seenaknya karena dia mempunyai rangka.

Robot terakhir adalah cyborg atau robot penyusup. Robot baru hanya ada 1 unit yaitu Marcus, terpidana mati yang badannya dihidupkan kembali dengan rangka robot. Robot ini masih berpikir layaknya manusia karena masih punya hati nurani. Robot ini nggak jauh beda dengan T101 namun pikirannya pake pikiran manusia dan nggak bisa diprogram oleh Skynet.

Dari tulisan di atas, kita bisa ambil kesimpulan bahwa robot yang paling canggih adalah T-X atau Terminatrix karena peralatannya yang sangat lengkap.

 

Film Fiksi

Film Terminator merupakan salah satu film fiksi ilmiah yang banyak disuka. Logika baru yang dibangun cukup kuat sehingga franchise film ini dipercaya terus laku untuk dijual. Namun dari semua khayalannya soal teknologi, sebenarnya yang paling nggak masuk akal atau yang paling fiksi adalah mesin waktu itu sendiri. Namun, karena kebanyakan orang sudah akrab dengan istilah mesin waktu, makanya detil mesin waktu malah nggak pernah disinggung.

Memang kita sudah dibuat biasa mendengar mesin waktu. Ini yang membuat kita nggak terlalu ambil pusing dengan adanya mesin waktu. Film Back To The Future pun laris manis tanpa harus peduli bahwa mesin waktu itu nggak mungkin banget. Yang perlu kita sadari bahwa semua yang terjadi dalam film ini sangat mungkin terwujud dengan kemajuan teknologi manusia kecuali ya mesin waktu itu sendiri.

Namun, jika banyak yang banding-bandingin film ini dengan Transformer hanya karena sama-sama nampilin robot, aku nggak setuju. Cerita di Transformer menurutku porsinya buat anak-anak. Kalo ngomongin bedanya cerita anak-anak sama dewasa itu sama dengan ngomongin bedanya Batman sebelum dan sesudah era Christian Bale.

 

Mojokerto, 10 Juni 2009

Hasyim MAH

hasyimmah.wordpress.com

Ditulis dalam Movie Review | Tinggalkan sebuah Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.