Hasyim MAH Blog

Berharap Adanya Diskusi

Arsip untuk ‘Peace Magazine’ Kategori

Sang Pemimpi (The Movie): Semua Itu Berawal Dari Impian

Posted by hasyimmah pada Januari 5, 2010

Ini dia sekuel Laskar Pelangi yang udah ditunggu-tunggu. Petualangan Ikal dalam mencapai impiannya ini tersajikan dengan baik sekali dalam film yang berjudul sama dengan bukunya: Sang Pemimpi. Film ini, menurut Andrea Hirata, sang penulis bukunya, memang luar biasa dan bahkan tiga kali lebih bagus dari film seri pertamanya. Bener nggak sih?

Biar adil, untuk menilai film ini, seharusnya kita menilai berdasarkan 2 aspek yaitu kualitas film itu sendiri dan respon masyarakat penikmat film Indonesia. Kalo berdasarkan aspek pertama, yaitu mengenai kualitas, film Sang Pemimpi ini memang lebih nyaman ditonton bahkan oleh orang yang belum membaca bukunya. Namun juka kita lihat dari aspek kedua, film ini kalah jauh dari film pertamanya. Ini bisa saja karena promonya yang kurang atau sebab lain, namun yang pasti penonton film kedua ini nggak sebanyak film pertamanya yang memecahkan rekor penonton film nasional.

Kurangnya promo memang bisa jadi penyebab utama. Kondisi ini jauh berbeda dengan ketika film Laskar Pelangi dulu diluncurkan. Namun penyebab lain juga turut membuat sambutan masyarakat kurang meriah dibandingkan yang pertama. Misal banyaknya film bagus yang dirilis hampir bersamaan dengan Sang Pemimpi di akhir tahun 2009 kemarin. Kamu tahu, sejak November, kita disuguhi banyak sekali film box office yang memang ditunggu banyak pecinta film. Sebut saja 2012, The Twilight Saga New Moon, Avatar sampai Sherlock Holmes yang luar biasa laris baik di Amrik sana maupun di negeri kita juga. Makanya nggak heran kalo sambutan masyarakat terhadap film karya Riri Riza ini nggak terlalu heboh seperti dulu.

Kalo kita melihat novel Sang Pemimpi, kita harus akui bahwa novel jilid kedua (dari 4 judul) ini adalah novel terbagus bahkan jika dibanding Laskar Pelangi (jilid pertama). Jika di buku pertama kita dibuat kagum dengan suguhan latar belakang Ikal (kondisi daerah dan orang-orang di sekitarnya), di buku kedua ini kita lebih disuguhkan perjuangan sesungguhnya Ikal dalam mencapai cita-citanya itu. Perjuangan inilah inti dari semua perjalanan Ikal dari kecil hingga dewasa ini. Maka dari itu, sebenarnya sayang banget kalo film kedua ini malah nggak banyak yang menonton karena semangat Ikal dalam mencapai cita-cita mampu dilukiskan dengan baik di sini.

Riri Riza, sang sutradara, memang menjadi orang yang paling patut diacungi jempol untuk film ini. Meski begitu, Riri tampaknya masih kesulitan bagaimana menggambarkan kondisi masa lalu Ikal tanpa harus mengucapkan narasi. Narasi tetap memegang peran besar untuk menjelaskan “dengan lebih cepat” kepada penonton. Hal ini wajar bagi film yang mengadopsi cerita dari novel. Media film terasa sangat pendek jika harus mengangkat semua isi cerita di dalam bukunya.

Hal seperti ini juga terjadi di film Harry Potter. Hanya saja di Harry Potter, sang sutradara bisa lebih kreatif dengan cara memperlihatkan judul-judul berita di koran Daily Prophet. Penunjukan judul-judul berita ini pada dasarnya sama dengan narasi yaitu menceritakan “dengan lebih cepat” supaya film nggak terlalu panjang.

Namun, secara keseluruhan Riri Riza mampu membuktikan bahwa dia nggak pernah mengecewakan penonton. Film-filmnya selalu mampu tampil beda jika dibandingkan dengan film-film nasional yang lain.
Di Laskar Pelangi, perjalanan Ikal digambarkan sampai lulus SD di desanya. Di film kedua ini, cerita berfokus kepada masa SMA-nya. Dan karena di desa Ikal nggak ada sekolah setingkat SMA, maka Ikal harus nge-kos di Manggar untuk melanjutkan sekolah di sana.

Selama menjalani sekolah di SMA ini, Ikal ditemani oleh Arai, sepupunya yang sejak ditinggal mati ortunya tinggal bersama keluarga Ikal. Ikal dan Arai kemudian menjalin persahabatn dengan Jimbron yang juga senasib sepenanggungan. Ketiga sekawan ini berjuang bersama untuk menyelesaikan masa SMA mereka. Untuk bersekolah ini mereka harus bekerja di pasar ikan.

Mereka bekerja bukan hanya sekedar untuk hidup dan biaya sekolah di masa SMA itu, namun mereka juga menabung untuk persiapan menggapai cita-cita mereka setelah lulus SMA yaitu kuliah di Jakarta. Melihat kondisi mereka saat itu, cita-cita mereka terasa naif, apalagi sempat ada kejadian di mana uang hasil tabungan mereka harus mereka serahkan ke orangtua Ikal. Namun sekali lagi, perjuangan memang nggak boleh berhenti.

Berbagai kendala dan gelombang hidup yang dialami oleh Ikal dan sahabatnya itu nggak pernah menyurutkan impian mereka. Pengalaman-pengalaman yang kadang lucu, konyol, dramatis dan nggak terlupakan itulah yang akhirnya membentuk karakter Ikal dewasa.

Kisah cinta di Sang Pemimpi ini justru dialami oleh Arai dan Jimbron. Sedangkan bagi Ikal sendiri malah nggak ada cerita cinta sama sekali. Sepanjang film, hanya sekilas diperlihatkan kotak (tempat menyimpan uang) milik Ikal yang itu merupakan kota pemberian dari A Ling, cinta sejati bagi Ikal. Selain itu, Ikal bener-bener libur dari urusan percintaan.

Tokoh Penting
Dari sisi tokoh, ada beberapa tokoh yang kalo dibandingkan akan punya peran yang sama antara tokoh di Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Arai, sahabat terdekat Ikal di masa SMA. Peran tokoh ini bisa dibilang sama pentingnya dengan Lintang yang dulu menjadi sahabat Ikal di waktu SD.

Lalu Jimbron, sahabat terdekat kedua di masa SMA. Posisi Jimbron ini bisa dibandingkan dengan posisi Mahar di Laskar Pelangi. Meski nggak sedekat dengan Lintang atau Arai, posisi Mahar dan Jimbron memang nggak bisa dianggap remeh. Peran mereka besar bagi Ikal.

Di Laskar Pelangi, kita mengenal sosok guru Bu Muslimah yang sangat menginspirasi Ikal. Kali ini, guru yang paling spesial adalah Pak Balia yang diperankan oleh Nugie. Di samping guru ini, ada juga peran sekolah yang menonjol baik waktu SD dulu maupun di saat SMA ini.

Peran orang-orang di sekitar Ikal memang sangat peting bagi kehidupannya. Kehadiran mereka ini bisa mempertahankan motivasi Ikal yang terkadang turun. Memang, dalam hidup terkadang kita dihadapkan dengan kondisi yang bisa membuat kita putus asa. Namun, semua kembali pada diri kita sendiri, apakah kita menyerah atau tetap yakin bahwa kita bisa menggapai itu semua. Dengan melihat film ini, rasanya kita bisa lebih termotivasi dalam mencapai impian kita. Ingat, dalam lirik lagunya Anggun: Dreams aren’t made to be erased… *(HM18)

Ditulis dalam Movie Review, Peace Magazine | 1 Komentar »

Tentang PEACE MAGAZINE

Posted by hasyimmah pada November 26, 2008

cover-2009-04Saya tinggal di Mojokerto, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Tanggal 15 September 2004, saya menerbitkan sebuah majalah pelajar bernama PEACE MAGAZINE.

Majalah yang terbit bulanan ini saya buat khusus untuk pelajar setingkat SMP sampai SMA di wilayah Kabupaten/Kota Mojokerto. Majalah ini tanpa reporter karena berisi oleh karya dan berita yang dikirim oleh para pelajar sendiri.  Saya sendiri menganggap bahwa majalah ini adalah kepanjangan fungsi dari mading (majalah dinding). Namun jika mading hanya dibaca temen-temen di sekolah saja, PEACE MAGAZINE dibaca oleh seluruh sekolah di wilayah Kabupaten. Majalah ini punya tagline: Seven2Twelve Magazine. Maksudnya majalahnya anak kelas 7 sampai kelas 12 (1 SMP hingga 3 SMA). Keren kan sebutannya?

Setelah 4 tahun terbit, akhirnya PEACE MAGAZINE juga terbit di Kabupaten Jombang. Namun karena tetap berkonsep lokal, maka PEACE MAGAZINE Jombang terbit dengan materi berbeda dengan yang di Mojokerto.

Kini, PEACE MAGAZINE sudah bercabang menjadi PEACE MOJOKERTO dan PEACE JOMBANG. Nantinya saya berharap PEACE bisa terbit juga di kota-kota lain. Seperti halnya franchise, majalah ini saya usahakan bisa lebih luas lagi.

Yang tertarik dengan konsep saya ini, silakan aja berkomentar. Nggak harus beli merek saya kok. Mau buat nama sendiri dan kemudian meniru konsep saya juga boleh. Saya tetap mau bantu kok. *(HM18)

Ditulis dalam Peace Magazine | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.