Hasyim MAH Blog

Berharap Adanya Diskusi

Arsip untuk ‘Peduli Lingkungan’ Kategori

Peduli Lingkungan (3): Pentingkah Earth Hour?

Posted by hasyimmah pada Maret 27, 2010

Malam ini (27 Maret 2010) pukul 20.30 sampai 21.30 kita dianjurkan ikut menyukseskan program yang digagas WWF ini. Menurut Anda, perlukah kita mengikuti program ini?

Di website Earth Hour Indonesia disebutkan bahwa jika 10% saja dari penduduk Jakarta megikuti program ini maka akan menghemat 300 MWh (Megawatt hour). Tenaga yang dihemat ini lalu disetarakan dengan hal lain yang salah satunya setara dengan menghemat biaya sebesar Rp 216.000.000. Ini baru 10% lho. Ini baru Jakarta lho…

Sebagai manusia yang peduli lingkungan dan ingin menyelamatkan bumi, tentu kita sudah seharusnya mendukungnya. Tapi jika Anda sekadar ikut tanpa memahami inti dari pesan yang disampaikan, tentu ini hanya menjadi “mati lampu ala PLN” bagi Anda. Kalau cuma begini, mending PLN saja yang disuruh matikan listriknya sering-sering secara nasional.

Kita harus sadar Earth Hour hanyalah event simbolik. Earth Hour adalah ritual simbolik agar kita ingat bahwa kita sedang “menghabisi” bumi ini. Kita juga harus ingat bahwa kita (manusia) adalah penyakit yang menggerogoti bumi ini. Dan kalau kita bicara soal ritual simbolik, tentu kita tidak bisa melupakan ritual keagamaan. Perlu diingat bahwa di agama (apapun) sudah ada acara simbolik yang isinya berpesan tentang “menahan konsumsi” seperti ini.

Di agama, kita sudah sering diberi tahu bahwa manusia adalah khalifah (pemimpin) di muka bumi, yang seharusnya peduli dengan yang dipimpin yaitu bumi dan seisinya. Namun sayang kenyataannya kita benar-benar jadi penyakit yang mematikan bagi bumi ini. Pelan tapi pasti, kita jadi yakin bahwa hari akhir (kiamat) bukan diberikan oleh Tuhan, tapi dengan sendirinya terjadi karena telah masuk “rencana” kegiatan manusia.

Kembali mengenai acara simbolik agama yang bertujuan sama dengan Earth Hour. Di agama Islam, Kristen dan Katolik ada ajaran tentang puasa. Di agama Budha, Hindu dan Konghucu ada anjuran untuk menjadi vegetarian. Bahkan khusus Hindu, kita sudah mengenal yang namanya “Earth Day” dengan hari raya Nyepi-nya. Bayangkan berapa yang bisa kita hemat kalau seluruh wilayah Indonesia ikut merayakan hari raya Nyepi. Kita tahu di Nyepi bukan saja kita tidak boleh menyalakan peralatan listrik, tapi menyalakan api pun dilarang.

Di semua agama, saya yakin ada pesan agar kita lebih sayang sama alam. Kita sudah seharusnya mengurangi konsumsi kita. Kita sudah terlalu kejam memperkosa alam ini. Makanya, sebagai seorang muslim, saya sangat tidak setuju ketika di bulan Ramadhan ada orang yang “balas dendam” dengan makan berlebihan di malam hari. Orang seperti ini jelas tidak menangkap pesan dari ajaran berpuasa.

Reaksi Alam

Sadar atau tidak, alam melakukan reaksi terhadap pemerkosaan yang kita lakukan. Bencana alam, itu merupakan salah satu reaksi alam untuk mengurangi jumlah manusia. Selain itu adalah munculnya berbagai penyakit modern. Bahkan ketika di sekitar saya (saudara, kerabat, teman) banyak pasangan suami istri yang tidak dikaruniai anak, saya anggap itu juga reaksi alam. Kita juga harus sadar bahwa semakin banyak manusia, maka alam ini juga akan semakin cepat kehancurannya.

Jika kita ingin hidup lebih lama di muka bumi ini, tidak ada jalan lain bagi kita kecuali dengan berdamai dengan alam. Tunjukkan selalu niat-niat baik kita. Kalau dari sisi agama, kita tunjukkan dengan puasa kita, menahan nafsu kita dan mengurangi konsumsi kita. Sedangkan dari sisi pribadi, saya berusaha berbuat sesuatu yang ringan namun berharap mampu “didengar” oleh alam sebagai niat baik saya.

Untuk itulah saya buat tulisan dan ajakan pada seri 1 dan seri 2 yang mengajak Anda sekalian untuk tidak membuang sampah sembarangan dan pantang membuang makanan. Dua seri pertama itu merupakan hal simpel namun menjadi poin terpenting dan paling mendasar yang harus kita deklarasikan pada diri sendiri. Setelah 2 poin itu, kita bisa lanjutkan di seri-seri berikutnya dengan diskusi-diskusi yang mungkin secara teknis agak lebih berat untuk dilaksanakan. Jadi, seri 3 ini menjadi pembatas antar yang dasar dan tingkat lanjutan yang sekaligus untuk menyambut Earth Hour hari ini.

Dan dengan ini, semoga kita jadi tahu apa yang mendasari kita untuk ikut menyukseskan acara Earth Hour malam ini. Bukan sekadar ikut-ikutan dan juga bukan sekadar mati lampu. Happy Earth Hour…

Mojokerto, 27 Maret 2010

Hasyim MAH

hasyimmah.wordpress.com

Ditulis dalam Peduli Lingkungan | Tinggalkan sebuah Komentar »

Serial Peduli Lingkungan (2): Pantang Buang Makanan

Posted by hasyimmah pada Maret 25, 2010

Seperti pada seri sebelumnya yang menyatakan buang sampah adalah kejahatan, maka kali ini saya ingin menyatakan bahwa membuang makanan juga merupakan kejahatan!

Masihkah Anda menyisihkan masakan kemarin ketika ada masakan baru hari ini, yang ujungnya, masakan kemarin basi dan dibuang? Masihkah Anda menyisakan makanan di piring Anda? Masihkah Anda “kalap” ambil makanan di acara prasmanan lalu menyisakannya? Kalau Anda masih melakukan itu, Anda bukan saja buang-buang uang, tapi juga telah melakukan kejahatan pada bumi ini.

Perlu kita tahu beban bumi untuk memberi makan manusia yang terus bertambah ini sangatlah besar. Dan hanya karena urusan makan inilah akhirnya terjadi banyak sekali perusakan alam, eksploitasi pertanian dengan bahan kimia yang merusak tanah, eksploitasi hewan yang bisa dibilang sadis di dunia peternakan, hingga konflik antar-negara atau perang.

Kebutuhan manusia bisa dibilang overload dari apa yang disediakan bumi. Setiap waktu, sumber daya alam (SDA) mengalami defisit yang yang luar biasa. Apa yang kita tanam dan produksi tak sebanding dengan yang kita pakai (makan). Menurut saya, hanya menunggu waktu saja untuk akhirnya kita sadari bahwa kita minta terlalu banyak pada alam ini.

Salah satu yang menyebabkan kita tidak boleh membuang makanan adalah karena makanan manusia mempunyai level tertinggi di antara makhluk hidup lain. Apa yang dibuang manusia mungkin masih bisa dimakan hewan, tapi yang dimakan hewan tentu tidak akan bisa dijadikan makanan manusia. Jadi, selama suatu makanan masih berstatus makanan manusia, jangan sampai diturunkan levelnya jadi makanan hewan. Kita itu dengan susah payah mencari makanan yang levelnya di atas makanan hewan, kok begitu sudah dapat, kita dengan mudah menurunkan derajatnya dengan dibuang begitu saja.

Kita juga harus sadar perjalanan panjang sebuah proses untuk menyajikan makanan sampai di piring kita. Untuk nasi, kita eksploitasi tanah supaya padi tumbuh dengan cepat tanpa peduli kerusakan tanah. Ini belum termasuk bagaimana kita menghabisi hutan untuk dijadikan ladang pertanian. Untuk sayuran dan bumbu-bumbu, tak beda jauh dengan padi. Untuk lauk pauk, kita eksploitasi hewan sedemikian rupa supaya bisa cepat besar dan segera bisa kita konsumsi. Kalau kita lihat peternakan ayam, kita tahu bagaimana ego manusia menjadikan hidup ayam begitu sangat tidak berharga. Tanpa mengunjungi peternakan pun kita sering lihat kondisi ayam di mobil bak terbuka ketika mereka akan dikirim ke pasar. Ugh… luar biasa semena-menanya.

Itu baru proses membawa bahan makanan ke dapur kita. Setelah itu kita masih harus mengolah makanan untuk bisa kita makan. Proses pengolahan yang tidak dilakukan oleh makhluk hidup lain ini kita sebut dengan memasak. Proses ini pun membutuhkan proses eksploitasi SDA yang lain termasuk bahan bakar.

Nah, setelah proses panjang itu dan akhirnya tersaji di piring kita, makanan dengan level tertinggi yang disebut sebagai “makanan manusia” itu tiba-tiba kita buang lagi. Coba bayangkan, apakah ini bukan sebuah kejahatan?

Makanan Di Dapur Kita

Di setiap rumah tangga, kita pasti punya makanan yang disajikan untuk seluruh anggota keluarga. Makanan ini bisa dari masakan sendiri, katering atau dibeli setiap hari. Masakan rumah tangga ini bisa jadi tidak selalu habis termakan sampai esok harinya. Padahal di hari berikutnya, pasti ada masakan baru yang juga terhidang. Dan setiap keluarga pasti punya tradisi sendiri menyikapi makanan “sisa kemarin” ini. Ada yang langsung dibuang, ada yang disimpan dulu sampai pada akhirnya basi dan dibuang, dan tentu ada juga yang tetap dimakan.

Langsung dibuang atau membiarkan basi, jelas masuk dalam kategori kejahatan yang saya maksud. Langkah yang paling bijak dan itu sudah saya terapkan dalam keluarga saya adalah: tidak boleh menyentuh (makan) masakan baru sebelum “sisa kemarin” itu dihabiskan. Dengan cara ini, peluang untuk makanan basi bisa dihindari dan mungkin setelah 4-5 hari ke depan, akan ada sisa makanan yang cukup untuk sehari sehingga tidak perlu masak di hari itu.

Cara ini membuat kita terhindar dari membuang makanan baik secara sengaja ataupun karena basi. Selain itu, secara ekonomi, bisa menjadikan kita lebih hemat.

Ada kalanya, di rumah kita tak sengaja mendapat banyak kiriman makanan secara bersamaan dari saudara, teman atau tetangga. Dalam kasus ini kadang mengakibatkan kita tidak perlu masak sampai beberapa hari ke depan. Namun sayang ketika kita perhitungkan, makanan itu ternyata bisa kita makan sampai 4 hari ke depan tanpa masak. Persoalannya, kita juga yakin bahwa semua makanan itu hanya bertahan tidak lebih dari 2 hari. Pada kasus seperti, kita harus punya inisiatif untuk segera menyalurkan makanan itu ke pihak lain yang dirasa membutuhkan. Bisa kita buat bungkusan (nasi plus lauk siap makan) lalu kita bagikan di traffic light, misalnya.

Makanan Di Piring Saat Di Rumah Kita

Bila kita di rumah sendiri, apa yang kita ambil ke piring kita, adalah tanggung jawab kita. Sampai nasi butir terakhir, adalah kewajiban kita untuk menghabiskan. Toh, saat mengambil makanan tersebut, kita pasti tahu seberapa kapasitas perut saat itu. Jadi, bila makan di rumah, tidak ada alasan yang membenarkan bagi kita untuk menyisakan makanan.

Saya pribadi dari kecil selalu terbiasa menghabiskan makanan di piring tanpa menyisakan satu butir nasi sekalipun. Setelah berkeluarga, tanggung jawab terhadap makanan ini pun saya terapkan menjadi aturan dalam rumah tangga. Khusus anak saya yang masih 7 tahun dan terkadang berhenti makan di tengah jalan, saya atau mamanya yang harus menghabiskannya. Itu tanggung jawab kita sebagai orangtua.

Makanan Di Piring Saat Di Rumah Makan

Yang sudah bisa menghabiskan makanan di rumah sendiri, terkadang belum tentu bisa melakukan tahap ini. Kalau di rumah, selalu habis karena porsinya ambil sendiri, tapi begitu di rumah makan, kita terkadang dengan santai menyisakan makanan dengan alasan sudah kenyang. Namun bagi saya, ini tetap sebuah kejahatan. Bagaimana cara menyiasatinya?

Dibungkus! Iya, itu yang saya lakukan ketika porsi yang disajikan di rumah makan, saya anggap terlalu banyak. Saya membiasakan diri untuk tidak malu melakukan ini dari warung kaki lima sampai di level restoran. Ini bukan masalah ekonomi atau pelit, tapi masalah yang lebih serius yaitu peduli lingkungan.

Kalau misal kita malu untuk menyuruh pihak rumah makan membungkus makanan sisa kita, kita bisa siasati dengan bawa wadah plastik sendiri dari rumah (misal Tupperware). Untuk menghadapi situasi seperti ini, kita bisa selalu siapkan Tupperware di mobil kita.

Terus terang, ada kondisi yang kadang membuat saya rikuh untuk membungkus makanan sisa di rumah makan. Bagi saya, kondisi yang paling rikuh bukan tentang level rumah makannya, tapi dengan siapa kita makannya. Kalau dengan keluarga, tentu sisa makanan selalu kami bungkus. Tapi jika saya sedang makan bersama tamu saya yang kebetulan berurusan bisnis dengan saya, terkadang rasa rikuh itu muncul. Setelah beberapa kali saya mengalami hal tersebut, saya tetap nekat untuk membungkus makanan sisa di piring saya. Dan jika rasa rikuh benar-benar menyelimuti saya, saya akan memilih untuk menghabiskan makanan itu meski merasa kenyang. Yang pasti, jangan sampai saya membuang makanan.

Oh ya, ada satu kasus yang sering menyusahkan saya. Saya adalah orang yang suka masakan bersambal, misalnya pecel lele, ayam goreng, bebek goreng atau yang lain. Makanan seperti ini selalu disajikan bersama lalapan. Persoalannya, saya tidak suka lalapan. Satu-satunya lalapan yang saya nikmati adalah daun kemangi. Selebihnya, saya anggap sebagai makanan pengganggu. Namun, karena saya anggap itu tanggung jawab saya, saya selalu memakan lalapan sebelum saya benar-benar mulai makan. Mentimun, kubis, kacang panjang dan tomat terpaksa saya makan dulu supaya nanti tidak mengganggu acara makan saya.

Makanan Di Piring Saat Di Hajatan

Hajatan jaman sekarang seringkali menyajikan makanan secara prasmanan (ambil sendiri). Kondisi ini banyak membuat orang “kalap” dengan mengambil makanan versi rakus.

Orang yang masuk kategori rakus ini terbagi menjadi 2 tipe. Yang pertama, dia ambil banyak luar biasa tapi tetap menghabiskannya. Yang kedua, dia ambil banyak luar biasa dan tanpa merasa berdosa dia menyisakan makanan di piring yang dia ambil. Lebih parah lagi, setelah menaruh makanan sisa ini, dia lalu mengambil jenis makanan lain lagi. Dan lagi-lagi dia menyisakan lagi. Hal seperti ini bisa berulang-ulang sesuai tingkat kerakusannya.

Orang yang dengan sengaja menyisakan (baca: membuang) makanan di acara seperti ini bisa dibilang melakukan kejahatan terbesar seputar membuang makanan. Disebut kejahatan terbesar karena orang seperti ini menggabungkan antara kerakusan, kekikiran (merasa gratis), niat tidak baik pada yang punya hajat (tidak peduli kalau tamu lain kehabisan), ketidakpedulian pada sesama (karena masih banyak orang kelaparan), serta kejahatan membuang makanan itu sendiri.

Fenomena hajatan ini bisa Anda cek dengan menanyakan ke jasa katering hajatan. Coba cek juga berapa banyak makanan yang hars mereka buang dari sisa makanan di piring para tamu setiap kali hajatan.

Fenomena ini juga membuat saya bercita-cita untuk membuat gerakan pantang buang makanan. Salah satu kegiatannya adalah selalu menyebar brosur di setiap hajatan yang digelar di kota kita. Di brosur itu kita serukan untuk ambil makanan secukupnya namun tetap dipersilakan ambil lagi jika dianggap kurang. Kita juga sampaikan bahwa hal ini bertujuan agar tidak ada makanan sisa yang akhirnya terbuang percuma. Dengan gerakan independen ini, semoga suatu saat, tidak kita lihat lagi kerakusan para tamu yang berujung dengan pembuangan makanan secara massal.

Kita tahu himbauan dalam brosur ini tidak mungkin disampaikan oleh si pemilik hajat. Kalau si pemilik hajat yang bilang, tentu tamu akan menganggap bahwa orang itu pelit atau sejenisnya. Makanya brosur ini harus diterbitkan oleh gerakan independen yang memang selalu menyebar brosur di setiap hajatan.

Membuang makanan bukan masalah ekonomi. Meski uang kita berlebih, bukan jadi alasan kita bisa membuang makanan seenaknya. Ini masalah kepedulian kita pada lingkungan. Sudahkan Anda ikut peduli?

Mojokerto, 25 Maret 2010

Hasyim MAH

Ditulis dalam Peduli Lingkungan | Tinggalkan sebuah Komentar »

Serial Peduli Lingkungan (1): Buang Sampah 99,9% Di Tempatnya

Posted by hasyimmah pada Maret 20, 2010

Ini adalah tulisan pertama dari serial Peduli Lingkungan saya yang rencananya akan terus saya buat lanjutannya. Setiap seri, saya akan berusaha memberikan ide-ide sederhana tentang peduli lingkungan yang justru bisa kita terapkan atau kita diskusikan sebagai warga negara biasa. Kompasianer, saya anggap sebagai komunitas terdepan yang bisa kampanye tentang lingkungan minimal kepada orang-orang di sekitarnya.

Serial tulisan ini jelas berangkat berangkat dari semakin rusaknya bumi tempat tinggal kita ini. Dan celakanya, kita manusia inilah yang merusaknya. Kita tentu tidak bisa menyerahkan segala tanggung jawab ini pada pemerintah. Kita sendiri sebagai umat manusia tentu juga bertanggung jawab sesuai kapasitas kita. Yuk, kita mulai dari diri kita sendiri…

Langkah Awal

Kesadaran buang sampah pada tempatnya adalah langkah paling mendasar yang menunjukkan kepedulian kita pada lingkungan. Maka dari itu, pada seri pertama ini, saya ingin mengingatkan kembali tentang kesadaran kembali membuang sampah pada tempatnya. Pada tahap ini, kita hanya membicarakan tentang kesadaran buang sampah saja, belum sampai pada tahap pengelompokan dan pengolahan sampah.

Pada tahap ini, saya berani mendeklarasikan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, saya pribadi sudah mampu melaksanakan buang sampah 99.9% di tempatnya! Hal ini memang sudah saya deklarasikan pada diri saya sendiri untuk tidak buang sampah sembarangan sampai angka 99,9%. Janji pada diri sendiri ini Alhamdulillah sudah bisa saya jalankan sejak awal 2008.

Dulu mungkin saya masih buang bungkus permen, tisu atau kertas di sembarang tempat. Tapi sekarang ini, jangankan bungkus permen, sobekan bungkus permen (ketika kita menyobek kemasan permen atau makanan lain) yang biasanya berbentuk segitiga dan sangat kecil, itupun tidak pernah saya jatuhkan di sembarang tempat. Jika tidak ada tempat sampah di sekitar saya, saya lebih memilih memasukkan ke kantong celana saya dulu.

Mungkin saya terbilang orang yang baru yang bisa sadar seperti ini karena baru 2-3 tahun menjalankan, tapi saya harap, kesadaran seperti ini belum terlambat untk dimulai dan bisa segera ditularkan kepada orang-orang di sekitar kita.

Oh ya, kenapa saya tulis 99,9%? Hehe, saya harus akui ada 0,1% sampah pribadi saya yang terkadang masih saya buang sembarangan, itupun tidak selalu. Tapi saya yakin itu tidak lebih dari 0,1% dari seluruh sampah dari diri saya. Itupun terkadang saya lakukan karena saya anggap alam dengan mudah mendaur ulang sampah saya tersebut. Apa saja itu? Pertama, (maaf) kotoran hidung yang kering alias “upil”. Kedua, kotoran yang tertinggal di mulut alias “slilit”. Ketiga, bangkai nyamuk yang kebetulan saya bunuh dengan tangan saya.

Sekali lagi, saya tidak selalu buang ketiga jenis sampah di atas sembarangan. Hanya berlaku pada kondisi tertentu misal saya tidak bawa tisu dan jauh dari tempat sampah. Di sisi lain, saya merasa ketiga jenis sampah ini “termaafkan” karena dengan cepat dibersihkan oleh alam. Sebagai contoh, semut dengan cepat mengangkut bangkai nyamuk yang saya buang di lantai rumah saya. Ini bukan soal ukuran lho. Meski ukuran sama tapi kalau sampahnya terbuat dari plastik, tentu ini tidak termaafkan.

Di luar ketiga jenis sampah itu, saya berani sombong saya tidak pernah buang sampah sembarangan. Bagaimana dengan Anda?

Saya harap bagi Anda yang belum, untuk segera mendeklarasikan diri. Berjanji pada diri sendiri sehingga kapanpun dan di manapun kita tidak mungkin melanggarnya. Bagi yang sudah, mari kita sampaikan pada orang di sekitar kita. Mulai dari anggota keluarga, teman kerja dan juga tetangga.

Dan seperti yang sudah saya sebutkan di atas, ini baru tahap kesadaran buang sampah. Jadi, bagaimana sampah kita pribadi, sampah rumah tangga kita dan sampah kantor kita bisa sampai di tempat sampah yang semestinya. Entah nanti sampah itu bakal terolah atau disalurkan dengan benar, itu tahap selanjutnya. Untuk sekarang ini, ini dulu aja. Ayo sayangi bumi kita…

Tambahan:

Membuang sampah sembarangan tak ubahnya kejahatan yang seharusnya dihentikan. Sayangnya hal ini masih menjadi kebiasaan masyarakat kita. Secara pribadi saya paling tidak suka dengan orang yang buang sampah dari mobil ke jalan umum, terutama di jalan pedesaan. Apa mereka pikir jalan raya (di desa) ada yang menyapu? Foto di samping ini sengaja saya tambahkan ketika lihat ada orang parkir (bersantai atau menunggu sesuatu) sambil buang sampah seenaknya. Kebiasaan lain dalam membuang sampah sembarangan adalah membuang puntung rokok dan kemasan makanan. Apakah hal ini akan kita biarkan?

Mojokerto, 20 Maret 2010

Hasyim MAH

Ditulis dalam Peduli Lingkungan | 1 Komentar »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.