Seperti pada seri sebelumnya yang menyatakan buang sampah adalah kejahatan, maka kali ini saya ingin menyatakan bahwa membuang makanan juga merupakan kejahatan!
Masihkah Anda menyisihkan masakan kemarin ketika ada masakan baru hari ini, yang ujungnya, masakan kemarin basi dan dibuang? Masihkah Anda menyisakan makanan di piring Anda? Masihkah Anda “kalap” ambil makanan di acara prasmanan lalu menyisakannya? Kalau Anda masih melakukan itu, Anda bukan saja buang-buang uang, tapi juga telah melakukan kejahatan pada bumi ini.
Perlu kita tahu beban bumi untuk memberi makan manusia yang terus bertambah ini sangatlah besar. Dan hanya karena urusan makan inilah akhirnya terjadi banyak sekali perusakan alam, eksploitasi pertanian dengan bahan kimia yang merusak tanah, eksploitasi hewan yang bisa dibilang sadis di dunia peternakan, hingga konflik antar-negara atau perang.
Kebutuhan manusia bisa dibilang overload dari apa yang disediakan bumi. Setiap waktu, sumber daya alam (SDA) mengalami defisit yang yang luar biasa. Apa yang kita tanam dan produksi tak sebanding dengan yang kita pakai (makan). Menurut saya, hanya menunggu waktu saja untuk akhirnya kita sadari bahwa kita minta terlalu banyak pada alam ini.
Salah satu yang menyebabkan kita tidak boleh membuang makanan adalah karena makanan manusia mempunyai level tertinggi di antara makhluk hidup lain. Apa yang dibuang manusia mungkin masih bisa dimakan hewan, tapi yang dimakan hewan tentu tidak akan bisa dijadikan makanan manusia. Jadi, selama suatu makanan masih berstatus makanan manusia, jangan sampai diturunkan levelnya jadi makanan hewan. Kita itu dengan susah payah mencari makanan yang levelnya di atas makanan hewan, kok begitu sudah dapat, kita dengan mudah menurunkan derajatnya dengan dibuang begitu saja.
Kita juga harus sadar perjalanan panjang sebuah proses untuk menyajikan makanan sampai di piring kita. Untuk nasi, kita eksploitasi tanah supaya padi tumbuh dengan cepat tanpa peduli kerusakan tanah. Ini belum termasuk bagaimana kita menghabisi hutan untuk dijadikan ladang pertanian. Untuk sayuran dan bumbu-bumbu, tak beda jauh dengan padi. Untuk lauk pauk, kita eksploitasi hewan sedemikian rupa supaya bisa cepat besar dan segera bisa kita konsumsi. Kalau kita lihat peternakan ayam, kita tahu bagaimana ego manusia menjadikan hidup ayam begitu sangat tidak berharga. Tanpa mengunjungi peternakan pun kita sering lihat kondisi ayam di mobil bak terbuka ketika mereka akan dikirim ke pasar. Ugh… luar biasa semena-menanya.
Itu baru proses membawa bahan makanan ke dapur kita. Setelah itu kita masih harus mengolah makanan untuk bisa kita makan. Proses pengolahan yang tidak dilakukan oleh makhluk hidup lain ini kita sebut dengan memasak. Proses ini pun membutuhkan proses eksploitasi SDA yang lain termasuk bahan bakar.
Nah, setelah proses panjang itu dan akhirnya tersaji di piring kita, makanan dengan level tertinggi yang disebut sebagai “makanan manusia” itu tiba-tiba kita buang lagi. Coba bayangkan, apakah ini bukan sebuah kejahatan?
Makanan Di Dapur Kita
Di setiap rumah tangga, kita pasti punya makanan yang disajikan untuk seluruh anggota keluarga. Makanan ini bisa dari masakan sendiri, katering atau dibeli setiap hari. Masakan rumah tangga ini bisa jadi tidak selalu habis termakan sampai esok harinya. Padahal di hari berikutnya, pasti ada masakan baru yang juga terhidang. Dan setiap keluarga pasti punya tradisi sendiri menyikapi makanan “sisa kemarin” ini. Ada yang langsung dibuang, ada yang disimpan dulu sampai pada akhirnya basi dan dibuang, dan tentu ada juga yang tetap dimakan.
Langsung dibuang atau membiarkan basi, jelas masuk dalam kategori kejahatan yang saya maksud. Langkah yang paling bijak dan itu sudah saya terapkan dalam keluarga saya adalah: tidak boleh menyentuh (makan) masakan baru sebelum “sisa kemarin” itu dihabiskan. Dengan cara ini, peluang untuk makanan basi bisa dihindari dan mungkin setelah 4-5 hari ke depan, akan ada sisa makanan yang cukup untuk sehari sehingga tidak perlu masak di hari itu.
Cara ini membuat kita terhindar dari membuang makanan baik secara sengaja ataupun karena basi. Selain itu, secara ekonomi, bisa menjadikan kita lebih hemat.
Ada kalanya, di rumah kita tak sengaja mendapat banyak kiriman makanan secara bersamaan dari saudara, teman atau tetangga. Dalam kasus ini kadang mengakibatkan kita tidak perlu masak sampai beberapa hari ke depan. Namun sayang ketika kita perhitungkan, makanan itu ternyata bisa kita makan sampai 4 hari ke depan tanpa masak. Persoalannya, kita juga yakin bahwa semua makanan itu hanya bertahan tidak lebih dari 2 hari. Pada kasus seperti, kita harus punya inisiatif untuk segera menyalurkan makanan itu ke pihak lain yang dirasa membutuhkan. Bisa kita buat bungkusan (nasi plus lauk siap makan) lalu kita bagikan di traffic light, misalnya.
Makanan Di Piring Saat Di Rumah Kita
Bila kita di rumah sendiri, apa yang kita ambil ke piring kita, adalah tanggung jawab kita. Sampai nasi butir terakhir, adalah kewajiban kita untuk menghabiskan. Toh, saat mengambil makanan tersebut, kita pasti tahu seberapa kapasitas perut saat itu. Jadi, bila makan di rumah, tidak ada alasan yang membenarkan bagi kita untuk menyisakan makanan.
Saya pribadi dari kecil selalu terbiasa menghabiskan makanan di piring tanpa menyisakan satu butir nasi sekalipun. Setelah berkeluarga, tanggung jawab terhadap makanan ini pun saya terapkan menjadi aturan dalam rumah tangga. Khusus anak saya yang masih 7 tahun dan terkadang berhenti makan di tengah jalan, saya atau mamanya yang harus menghabiskannya. Itu tanggung jawab kita sebagai orangtua.
Makanan Di Piring Saat Di Rumah Makan
Yang sudah bisa menghabiskan makanan di rumah sendiri, terkadang belum tentu bisa melakukan tahap ini. Kalau di rumah, selalu habis karena porsinya ambil sendiri, tapi begitu di rumah makan, kita terkadang dengan santai menyisakan makanan dengan alasan sudah kenyang. Namun bagi saya, ini tetap sebuah kejahatan. Bagaimana cara menyiasatinya?
Dibungkus! Iya, itu yang saya lakukan ketika porsi yang disajikan di rumah makan, saya anggap terlalu banyak. Saya membiasakan diri untuk tidak malu melakukan ini dari warung kaki lima sampai di level restoran. Ini bukan masalah ekonomi atau pelit, tapi masalah yang lebih serius yaitu peduli lingkungan.
Kalau misal kita malu untuk menyuruh pihak rumah makan membungkus makanan sisa kita, kita bisa siasati dengan bawa wadah plastik sendiri dari rumah (misal Tupperware). Untuk menghadapi situasi seperti ini, kita bisa selalu siapkan Tupperware di mobil kita.
Terus terang, ada kondisi yang kadang membuat saya rikuh untuk membungkus makanan sisa di rumah makan. Bagi saya, kondisi yang paling rikuh bukan tentang level rumah makannya, tapi dengan siapa kita makannya. Kalau dengan keluarga, tentu sisa makanan selalu kami bungkus. Tapi jika saya sedang makan bersama tamu saya yang kebetulan berurusan bisnis dengan saya, terkadang rasa rikuh itu muncul. Setelah beberapa kali saya mengalami hal tersebut, saya tetap nekat untuk membungkus makanan sisa di piring saya. Dan jika rasa rikuh benar-benar menyelimuti saya, saya akan memilih untuk menghabiskan makanan itu meski merasa kenyang. Yang pasti, jangan sampai saya membuang makanan.
Oh ya, ada satu kasus yang sering menyusahkan saya. Saya adalah orang yang suka masakan bersambal, misalnya pecel lele, ayam goreng, bebek goreng atau yang lain. Makanan seperti ini selalu disajikan bersama lalapan. Persoalannya, saya tidak suka lalapan. Satu-satunya lalapan yang saya nikmati adalah daun kemangi. Selebihnya, saya anggap sebagai makanan pengganggu. Namun, karena saya anggap itu tanggung jawab saya, saya selalu memakan lalapan sebelum saya benar-benar mulai makan. Mentimun, kubis, kacang panjang dan tomat terpaksa saya makan dulu supaya nanti tidak mengganggu acara makan saya.
Makanan Di Piring Saat Di Hajatan
Hajatan jaman sekarang seringkali menyajikan makanan secara prasmanan (ambil sendiri). Kondisi ini banyak membuat orang “kalap” dengan mengambil makanan versi rakus.
Orang yang masuk kategori rakus ini terbagi menjadi 2 tipe. Yang pertama, dia ambil banyak luar biasa tapi tetap menghabiskannya. Yang kedua, dia ambil banyak luar biasa dan tanpa merasa berdosa dia menyisakan makanan di piring yang dia ambil. Lebih parah lagi, setelah menaruh makanan sisa ini, dia lalu mengambil jenis makanan lain lagi. Dan lagi-lagi dia menyisakan lagi. Hal seperti ini bisa berulang-ulang sesuai tingkat kerakusannya.
Orang yang dengan sengaja menyisakan (baca: membuang) makanan di acara seperti ini bisa dibilang melakukan kejahatan terbesar seputar membuang makanan. Disebut kejahatan terbesar karena orang seperti ini menggabungkan antara kerakusan, kekikiran (merasa gratis), niat tidak baik pada yang punya hajat (tidak peduli kalau tamu lain kehabisan), ketidakpedulian pada sesama (karena masih banyak orang kelaparan), serta kejahatan membuang makanan itu sendiri.
Fenomena hajatan ini bisa Anda cek dengan menanyakan ke jasa katering hajatan. Coba cek juga berapa banyak makanan yang hars mereka buang dari sisa makanan di piring para tamu setiap kali hajatan.
Fenomena ini juga membuat saya bercita-cita untuk membuat gerakan pantang buang makanan. Salah satu kegiatannya adalah selalu menyebar brosur di setiap hajatan yang digelar di kota kita. Di brosur itu kita serukan untuk ambil makanan secukupnya namun tetap dipersilakan ambil lagi jika dianggap kurang. Kita juga sampaikan bahwa hal ini bertujuan agar tidak ada makanan sisa yang akhirnya terbuang percuma. Dengan gerakan independen ini, semoga suatu saat, tidak kita lihat lagi kerakusan para tamu yang berujung dengan pembuangan makanan secara massal.
Kita tahu himbauan dalam brosur ini tidak mungkin disampaikan oleh si pemilik hajat. Kalau si pemilik hajat yang bilang, tentu tamu akan menganggap bahwa orang itu pelit atau sejenisnya. Makanya brosur ini harus diterbitkan oleh gerakan independen yang memang selalu menyebar brosur di setiap hajatan.
Membuang makanan bukan masalah ekonomi. Meski uang kita berlebih, bukan jadi alasan kita bisa membuang makanan seenaknya. Ini masalah kepedulian kita pada lingkungan. Sudahkan Anda ikut peduli?
Mojokerto, 25 Maret 2010
Hasyim MAH